Latar Belakang Permasalahan
Kinerja rantai pasok menjadi salah satu faktor penting bagi perusahaan manufaktur karena menghubungkan proses perencanaan, pengadaan bahan baku, produksi, pengiriman, hingga pengembalian produk. Ketidaktepatan pada salah satu proses dapat memengaruhi kelancaran aktivitas perusahaan secara keseluruhan.
Pada proyek ini, perusahaan menghadapi tantangan dalam menjaga kestabilan pasokan bahan baku serta menyelaraskan perencanaan dengan kondisi aktual. Fluktuasi ketersediaan bahan baku juga berpotensi memengaruhi proses produksi sehingga diperlukan sistem pengukuran yang mampu menunjukkan bagian rantai pasok yang telah berjalan baik dan bagian yang masih membutuhkan perhatian.
Solusi dan Pendekatan
Pengukuran kinerja dilakukan menggunakan Supply Chain Operations Reference (SCOR) untuk memetakan aktivitas rantai pasok ke dalam lima proses utama, yaitu Plan, Source, Make, Deliver, dan Return. Setiap proses kemudian diterjemahkan menjadi indikator kinerja yang sesuai dengan kondisi operasional perusahaan.
Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk menentukan tingkat kepentingan setiap proses, atribut, dan indikator melalui pembobotan berjenjang. Nilai aktual masing-masing indikator kemudian diseragamkan menggunakan Snorm De Boer, sehingga indikator dengan satuan pengukuran yang berbeda dapat dibandingkan dalam skala yang sama.
Proses Pengerjaan
Pengerjaan dimulai dengan observasi aktivitas perusahaan, wawancara dengan pihak terkait, serta pengumpulan data melalui kuesioner. Dari 41 kandidat indikator kinerja, dilakukan proses validasi bersama pihak perusahaan hingga diperoleh 17 indikator yang dinilai sesuai untuk mengukur kondisi rantai pasok. SKRIPSIFULLNEW
Selanjutnya dilakukan pembobotan AHP pada tiga tingkat, mulai dari proses SCOR, atribut kinerja, hingga indikator. Pembobotan diuji menggunakan consistency ratio dengan ketentuan CR < 0,1. Setelah bobot dinyatakan konsisten, nilai aktual setiap indikator dihitung menggunakan data operasional perusahaan, kemudian dinormalisasi dengan Snorm De Boer dan dikombinasikan dengan bobot AHP untuk membentuk pengukuran kinerja rantai pasok.

Hasil yang Dicapai
Hasil analisis menghasilkan 17 indikator kinerja yang dapat digunakan untuk mengevaluasi proses rantai pasok perusahaan. Pembobotan pada level proses menunjukkan bahwa Plan memiliki prioritas tertinggi dengan bobot 0,44, diikuti Source 0,29, Make 0,14, Deliver 0,06, dan Return 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas perencanaan memiliki pengaruh yang relatif besar dalam evaluasi kinerja rantai pasok perusahaan. SKRIPSIFULLNEW
Pada tingkat indikator, Forecast Accuracy menjadi indikator dengan bobot terbesar pada proses Plan, yaitu 0,83. Hasil normalisasi juga memperlihatkan variasi pencapaian antarkinerja. Beberapa indikator mencapai skor 100, sedangkan indikator seperti Raw Material Planning Accuracy sebesar 85,63, Timely Delivery Performance by Supplier sebesar 50,75, Adherence to Production Schedule sebesar 60,74, dan Material Efficiency sebesar 88,61 menunjukkan masih adanya ruang untuk peningkatan kinerja.
Analisis tersebut menghasilkan peta prioritas yang lebih jelas sehingga evaluasi tidak hanya dilakukan berdasarkan dugaan, tetapi berdasarkan bobot kepentingan dan capaian aktual setiap indikator. Fokus perbaikan dapat diarahkan pada aspek perencanaan bahan baku, ketepatan pengiriman pemasok, kepatuhan terhadap jadwal produksi, serta keandalan proses produksi.

